Anestesi pada anak tidak bisa diperlakukan seperti anestesi pada orang dewasa yang hanya “dikecilkan dosisnya.” Tubuh anak masih terus tumbuh dan matang. Jumlah air dalam tubuh, cara bernapas, kerja jantung, otak, ginjal, hati, hingga sistem saraf dan otot masih berbeda. Karena itu, tubuh anak juga dapat menerima, menyebarkan, dan membuang obat anestesi dengan cara yang berbeda.
Bayangkan tubuh seperti sebuah sistem transportasi. Obat adalah “penumpang”, sedangkan organ tubuh adalah jalan dan kendaraannya. Pada anak, sistem ini masih berkembang. Jadi, berat badan memang penting untuk menghitung dosis, tetapi **bukan satu-satunya hal yang harus dilihat. Usia, tahap pertumbuhan, fungsi organ, kondisi pernapasan, serta respons anak setelah obat diberikan harus terus diperhatikan. Inilah alasan sederhana mengapa dalam anestesi pediatrik kita perlu selalu ingat: anak bukan dewasa versi mini”.
Sumber: Nagelhout, J. J., Elisha, S., & Plaus, K. (2013). Nurse Anesthesia (5th ed.). Elsevier Health Sciences; serta rekomendasi praktik anestesi pediatrik dari *American Society of Anesthesiologists (ASA).
Anestesi pada Pediatrik Part 2
Sebelum anak mendapatkan obat anestesi, sebenarnya banyak risiko sudah bisa dikenali lebih awal. Caranya bukan dengan pemeriksaan yang rumit, tetapi dengan menggali riwayat dari orang tua, memastikan puasa, melihat kondisi jalan napas, menilai apakah anak sedang batuk atau pilek, serta memahami tingkat kecemasannya. Pada pasien anak, informasi kecil bisa menjadi petunjuk besar untuk membuat anestesi lebih aman.
Persiapan anestesi anak ibarat mengecek kendaraan sebelum perjalanan. Kita tidak menunggu masalah terjadi baru mencari solusinya. Perawat anestesi perlu memastikan monitor, oksigen, suction, akses IV, serta alat airway dengan ukuran yang sesuai sudah siap. Pilihan induksi melalui masker atau IV pun bukan soal mana yang paling hebat, tetapi mana yang paling sesuai dengan kondisi anak saat itu.
Jadi, anestesi pediatrik yang aman dimulai jauh sebelum obat pertama diberikan. Kaji pasiennya, gali informasi dari keluarga, kenali tanda bahaya, verifikasi puasa, siapkan alat dan rencana cadangan, lalu komunikasikan setiap temuan penting kepada tim. Semakin baik persiapannya, semakin kecil kemungkinan kita “terkejut” saat induksi dimulai.
Sumber: Nagelhout, J. J., Elisha, S., & Plaus, K. (2013). Nurse Anesthesia (5th ed.). Elsevier Health Sciences.
#AnestesiPediatrik #PerawatAnestesi #HIPANI
Anestesi pada Pediatrik Part-3
Induksi berhasil bukan berarti pekerjaan selesai. Setelah anak tertidur, perawat anestesi tetap harus menjaga keseimbangan cairan, glukosa, pernapasan, tekanan darah, suhu, serta memperhatikan perdarahan. Pada anak, perubahan yang terlihat kecil dapat memiliki arti besar karena ukuran tubuh dan cadangan fisiologisnya tidak sama seperti orang dewasa.
Bayangkan anestesi seperti sebuah perjalanan pesawat. Induksi adalah lepas landas, bukan tujuan akhir. Selama perjalanan masih ada risiko seperti laringospasme, bronkospasme, perdarahan, gangguan cairan, hingga masalah saat ekstubasi. Bahkan ketika operasi selesai, jalan napas tetap harus dipastikan aman sebelum ETT dilepas dan pasien dipindahkan menuju PACU.
Di ruang pemulihan, pertanyaannya bukan hanya “anak sudah bangun atau belum?”, tetapi apakah airway aman, napas dan oksigenasi baik, tanda vital stabil, nyeri terkendali, serta kesadaran dan perilakunya kembali sesuai kondisi. Prinsip sederhananya: kaji, siapkan, pantau, kenali perubahan, komunikasikan, lalu evaluasi ulang sampai recovery benar-benar adekuat.
Sumber: Nagelhout, J. J., Elisha, S., & Plaus, K. (2013). Nurse Anesthesia (5th ed.). Elsevier Health Sciences.
© 2022 Himpunan Perawat Anestesi Indonesia | by inisialdotcom